Maandag, 04 Maart 2013

Novel Cinta Hitam-Putih






NOVE CINTA HITAM-PUTIH

Rambut hitam lembut terurai, wajah bundar  dihiasi senyuman yang manis dan tersipu malu menghiasi pemandangan Ku di hari minggu waktu itu. Keduah pipihKu mengembang seakan menutupi rasa malu Ku, hendak Ku berlari pulang untuk menata ulang penampilan Ku namun itu tidak dapat Ku lakukan lagi karena kini langkahKu telah menghantar Ku ke hadapanNya. Risauh hati dan bingung, apa yang harus Ku katakan ? dan dari manakah harus Aku memulainya?
Aku terdiam menatap ke sekeliling Ku, semua tatapan tertuju pada Ku dengan senyuman-senyuman yang seakan mengharapkan sesuatu tuk Aku lakukan. Kupalingkan kepalahKu dan menatap Ia yang duduk, dan dengan tangan kananNya mencoba tuk menyembunyikan senyumanNya dan wajahNya yang tersipu malu serta menunggu apa yang akan Ku katakan dan Aku lakukan !!!
Ku hampiri Ia secara perlahan dan mencoba tuk menghilangkan suasana sekitarnya yang seakan mengoyak keberanianKu.  Dan dengan perlahan ku rentangkan jari-jemari ku dan mulai menawarkan maksud keberadaan Ku di tempat itu. Dengan ramah tangan lembutNya pun menyambut akhirnya kedua tangan saling menggegam, dengan lembut dan samar sebuah namapun terucap dari bibirNya yang munggil.
Selvi....! (alias)
Dan Aku pun membalasNya.
Peter... !(alias)
Jantungku berdebar kencang dan tak karuan. Inginnya aku berteriak sekeras mungkin tuk melepaskan semua yang ada dalam hati ini namun itu tak mungkin tuk aku lakukan. Perbincangan singkat antara kamipun terjadi sehingga kesepakatan akan  waktupun mulai terencana.
just for you forever
Dengan sejuta harapan dan rasa sabar ku terus menghitung hari-hari yang ku lalui, terkadang rasa itu mendesak aku untuk berbicara dengan DIA yang kuasa sudi kiraNya Ia dapat mempercepat jalannya waktu dalam hariku dan hariNya dikarenakan hati ini tak sabar menanti. Namun itu hanya bisa sebatas hayalan semata karena itu tak mungkin terjadi.
Penantian ku yang begiitu panjang akhirnya terbayar juga, tibalah hari yang ku tunggu. Tepat pukul  9 pagi lebih dengan penuh percaya diri kudatangi tempat dimana Ia tinggal saat itu. Penuh rasa harap semoga saja hari yang telah menjadi hari kesepakatan kami ini tidak dihalangi oleh beberapa hal yang tidak ku inginkan.
Dengan menggunakan sepeda motor ku datangi tempatNya, begitu sesampainya aku ke tempatnya mata ku langsung tertuju kepada beberapa wanita yang sebaya selvi yang juga teman sekolahnya dudk berderet sepanjang teras rumah toko yang letaknya tepat didepan tempat tinggal Selvi. Jantung berdetak kencang, dengan sedikit wajah garang ku coba tuk menyembunyikan rasa gugup ku.
Semoga saja ini semua bukan jebakan buat aku ! guman ku dalam hati.
Dengan sengaja ku hentikan sepeda motor ku sedikit jauh dari halaman tempat tinggal Selvi dan menunggu dengan penuh harap semoga saja dengan cepat  Selvi  datang menghampiri ku, jujur aku sudah tak tahan lagi dengan situasi dan pandangan yang menatap ku curiga, beberapa dari mereka mulai menyebut dan memanggil.
Selvi  da yang datang............!!! kata salah satu temanNya yang lagi duduk di teras rumah toko tersebut.
Ketika ku melihat ke arah tempat tinggal Selvi seorang wanita mengenakan baju kaos leher bundar   berwarna coklat dan celana jeans ketat berwarna biru pudar sampai lutut melengkapi penamplanNya, siapa lagi Dia kl bukan Selvi yang kutunggu, dandanan sederhana namun perfetch membuat ku bangga, Dia bukan lagi sekedar wanita yang melewati pemandangan ku dan sebatas kukagumi saja, namun sekarang dia sudah menjadi milik ku (“dalam hubungan pacaran”).
Hehehehe......... akhirnya kudapati Dia, semoga saja Ia tidak berda dalam daftar para pria yang berada disekitarNya.  Kata ku dalam hati.
Wangi parfum wanita mulai terasa semaikin dekat, tak lama terdengar suara menyapa.
sudah lama menunggu.......? TanyaNya pada ku.
Hmmm...... tidak juga . jawab ku berusaha menyembunyikannya.
Akhirnya kamipin menempuh perjalanan menuju tempat yang telah direncanakan. Beberapa kali terjadi percakapan diantara kami mencoba tuk menghilangkan kesunyian antara kami dalam perjalanan itu.
Tak lama kemudian sekitar tiga perempat jam tiba juga kami di tempat yang kami tuju. Suara dentuman ombah di karang mulai terdengar. Deretan tanaman bakau di sepanjang pinggiran pantai menghiasi pemandangan kami. Mata kupun mulai mencari tempat yang sesuai dan jauh dari suasana yang mengusik. Akhirnya beberapa gumpalan besar batu karang yang berada dibawa teduhnya pohon bakau menjadi tempat pilihan ku. Sambil bergandengan tangan kamipun  menuju tempat tersebut. Akar pohon bakau yang kering menjadi alas duduk kami.
Tangannya yang munggil dan lembut berada dalam gengaman tanganku, ku coba tuk memainkan jari-jemarinya dengan tanganku tuk mengisi waktu yang hening. Ku lepaskan pandangan mata ku jauh ketengah lautan. Sambil menarik napas panjang dengan perlahan ku lepaskan. Hatiku ku bertanya :
Apa yang harus aku katakan....?
Apakah ku harus menunggu kata yang terucap dari bibirNya?
Ku palingkan pandanganku tuk mencoba menatapNya, beberapa helai rambutnya bersiraman ke keningNya, dan pandangan mata Nya pun seakan mengakatakan kepada ku
Apakah kita harus terus berdiam diri seperti ini?
Tangan kananku dengan lembut merangkulNya, dan membiarkan kepalaNya berbaring dalam pelukanKu, dan tangan kiri ku pun terus memainkan jari jemari tanganNya yang lembut. kamipun saling melontarkan pertanyaan dalam beberapa menit. Dan tak lama situasi heningpun kembali.
sambil menatapNya kucoba tuk merapikan helai rambutnya yang kusut akibat angin laut yang keras. Terasa di tangan ku kulit wajahnya yang lembut, kucoba tuk menatap kedua bola matanya namun pandanganNya menghindar dari ku. Dengan perlahan ku dekatai wajahku dan merasakan hangatnya kulit wajahnya, hingga akhirnya dia membiarkan lembut bibirNya berada dalam lumatan Ku. Kemesraan kamipun mengisi waktu kami yang tersisa.